Beweis von Liebe Unsere

Salam RImba Raya Lestari

Pupuk Kimia Bukan Pemecah Masalah

Posted by dedenia72 on September 12, 2009

Sell_Urea_46_UkrainePara petani di Indonesia sudah benar-benar tergantung dengan pupuk kimia, terutama Urea. Kelangkaan pupuk Urea dan pupuk kimia yang lain disinyalir sebagai penyebab utama mundurnya pertanian Indonesia. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa untuk mendapatkan hasil panen yang optimal, dibutuhkan tambahan input dari luar untuk menambah ketersediaan hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Tetapi ada hal lain yang luput dari pengamatan para petani bahkan mungkin para penyuluh yang seharusnya memberi pencerahan terhadap para petani. Hal itu adalah kejenuhan tanah.

Para petani padi Indonesia, terutama di daerah cukup curah hujan, memaksakan menanam padi setahun 2 kali bahkan 3 kali tanpa mengistirahatkan tanah terlebih dahulu. Agar bisa menanam 2 sampai tiga kali setahun maka pengolahan tanah dipercepat. Jerami sisa panen dibakar agar tanah dapat segera diolah lagi. Praktek pengolahan seperti ini berdampak terhadap kadar bahan organik tanah. Rendahnya bahan organik tanah menjadi penyebab menurunnya produksi padi sawah.

Pemberian pupuk kimia seperti Urea, dapat membuat tanah menjadi padat dan sangat keras saat mengering yang menyulitkan pengolahan tanah dan mikroorganisme tumbuh. Bahkan pemakaian yang berlebihan dapat menyebabkan munculnya keadaan dimana tanah menjadi jenuh akan pupuk inorganik (kimia). Dan yang akan terjadi selanjutnya adalah sebanyak apapun tanaman tersebut itu dipupuk, produksi tidak akan naik bahkan akan menurun seiiring waktu. Kejadian ini disebut kondisi leveling off. Ini sudah terjadi di Bali yang menerapkan sistem subak dan menanam 2 kali dalam setahun.

Dua hal tersebut: tanah jenuh pupuk inorganik (kimia) dan tanah rendah bahan organik adalah penyebab terjadinya leveling off produksi padi sawah. Dr. N. Netera Subadiyasa berpendapat bahwa pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) dengan input yang rendah dapat diwujudkan apabila pemupukan dirasionalkan (jumlah dan waktunya), jerami tidak dibakar tetapi dibenamkan, pupuk organik dimanfaatkan, dan tanah diistirahatkan sejenak dari budidaya sawah sambil ditanami pupuk hijau yang kemudian dibenamkan ke dalam tanah. Dengan cara itu pupuk dapat dihemat dan bersama dengan dihentikannya pembakaran jerami, tanah dapat dipulihkan kesuburannya dan pencemaran lingkungan dapat dikurangi.

Pupuk kimia memang penting, namun jika petani dapat menerapkan pendapat Dr. N. Netera Subadiyasa, maka ketergantungan terhadap pupuk kimia yang semakin mahal dan langka dapat dikurangi. Tanah adalah faktor penentu terpenting pertumbuhan tanaman. Jika tanah ‘sakit’, maka dipastikan tak ada satupun tanaman yang dapat tumbuh dengan optimal.

14 Responses to “Pupuk Kimia Bukan Pemecah Masalah”

  1. perigitua said

    haddiiirrrrr….

    lapoorrr dulu ahh…Link juga sedah dipasang sahabat🙂 silahkan dicek bila ada ketidaksesuaian nama.. protess aja ok hehehhe…

    Yg terbaik… biar bagaimanapun tetep yg alami… dari alam kembali ke alam….

    cu…

  2. bri said

    __asslamualaekum aa dede..kumaha kabarnya??insya allah sehat..amiin__

    ___aa….pupuk yang bagus kan komposkan??yg dari kotoran2 hewan gituu..hahay___

    _____salam persahabatan daribri____

  3. Ketergantungan pupuk kimia benar adanya, ini saya amati dari para petani di kampung saya termasuk di sawah emak yang selalu menggunakan pupuk alexa eh pupuk kimia.
    Pola tanam dikampung saya tetap 2x sawah tanam padi, 1x istirahat etapi untuk tanam semangka, jadi sawah emak disewakan kpd orang lain.
    Soal jerami sepertinya ada yang dibakar dan ada yang dibenamkan.
    Ini mestinya diberikan penyuluhan kepada para petani yaa.
    Salam hangat dari Surabaya

  4. guskar said

    untuk manajemen di bidang pertanian, mestinya program orde baru dulu bisa dilanjutkan. peran PPL harus dioptimalkan lagi.
    Tuhan telah memberikan tanah subur makmur kepada negeri ini, kita tinggal menjaga dan mengelolanya dengan sebaik2nya..

  5. zipoer7 said

    Salam Takzim
    Rubahlah tanah menjadi nasi
    Rubahlah tanah menjadi energi
    Agar Tanah tidak kerontang
    Pegang cangkulmu gemburi dengan keringatmu
    Salam Takzim Baatavusqu

  6. Indo Hijau said

    Penggunaan pupuk kimia sepertinya sudah mendarah daging kok, tetapi saat ini ditempat saya bekerja, karena mengikuti sertifikasi ecolabelling dengan standard FSC, mau tidak mau penggunaan pupuk kimia ditiadakan, sekarangan diganti dengan pupuk alam ( kompos ).

    • dedenia72 said

      nah sekarangg sudah saat nya darah yang sudah mendaging kita operasi dan keluarkan dari tubuh petani (termasuk kita)..
      marilah kita tiru Jepang yang dulu mereka bergantung dengan pupuk kimia seharang mulai bergerak di organik..

      • Aldy said

        Sebenarnya nggak usah jauh-jauh niru jepang, petani kita dulunya juga pake pupuk organik, karena mau instant dan promosi yang gencar dari produsen trus ditambah kebijakan pemerinah dengan adanya subsidi pupuk, makanya petani kita lebih memilih menggunakan pupuk kimia.

      • dedenia72 said

        yah meniru yang baik dan berhasil juga gak masalah kan mas..hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: