Beweis von Liebe Unsere

Salam RImba Raya Lestari

OSPEK..Berguna atau Budaya?

Posted by dedenia72 on August 15, 2009

“oiiii, cepaaaat..Jangan lelet.”, teriak salah seorang yang berbaju almamater. Bisa dipastikan bahwa ini adalah senior. Sedangkan kelompok yang diteriaki berbaju memakai baju putih, bawahan hitam dan segala pernak-pernik di segal tubuhnya, lari terbirit-birit menuju tempat suara berasal.

Ini hanyalah sepenggal cerita yang menggambarkan tentang OSPEK (Orientasi dan Perkenalan Kampus). Tapi apakah OSPEK yang punya arti seindah itu benar-benar berguna atau hanya budaya para senior mengerjai adek-adek juniornya?Lalu apakah panitia dan peserta benar-benar merasakan efek OSPEK sesuai tujuan awal?

Kemudian saya iseng-iseng mencari tahu dari semua pihak yang berkepentingan. Dari Panitia, Senior (lebih tinggi dari panitia), Dosen, dan tentu saja peserta.

  • Panitia

Tentu saja OSPEK penting. Untuk membentuk mental, mengenalkan junior pada para senior, acara tahunan, mempererat hubungan pertemanan, mengenalkan pada departemen (jurusan), dan segala macam alasan yang lain.

  • Senior

Ah,kita mah kalo diundang ya datang. Soal apa yang harus kita lakukan kan terserah panitia saja. Lagipula kedudukan senior kan lebih tinggi dari panitia. Bisa juga dibilang senior cuma menurunkan apa yang dulu kami rasakan waktu OSPEK.

  • Dosen

Saya tidak setuju dengan segala OSPEK itu. Masa peserta didandanin yang macem-macem kayak gitu. Mana bisa mentalnya tumbuh jadi mental orang sukses kalo didandaninnya aja kayak badut. Itu cuma bisa-bisa an kalian aja cari pacar.

  • Peserta

Sebenarnya sebagian dari kita mungkin terpaksa saja ikut OSPEK. Tapi ada bagusnya juga OSPEK karena kita jadi banyak tau tentang apa-apa saja yang akan kita hadapi nanti. Kalo soal marah-marah atau bentak-bentakan sih mungkin sudah wajar kali ya ada di acara kayak gini.

Yah seperti itulah kira-kira tanggapan tentang OSPEK. Memang budaya OSPEK telah mengakar sejak kita SMA. Jadi tidak serta merta bisa dihilangkan begitu saja. Lagipula kalo saya pribadi juga tidak setuju kalo OSPEK dihilangkan. KArena selain pembelajaran bagi peserta, ini juga menjadi pembelajaran bagi panitia. Panitia harus siap bekerja keras menyiapkan materi, acara, dekorasi dan lain-lain yang jelas akan berguna buat mereka nanti. Tapi jika ada OSPEK berlebihan, seperti STPDN, yang mengakibatkan kematian peserta OSPEK saya sangat menentang itu.

Tentu saja ada perasaan berbeda setelah kita merasakan OSPEK. Ada kenangan yang tertinggal. Jadi menurut saya pribadi OSPEK itu berguna bagi semua pihak yang terlibat. Setidaknya itu yang saya rasakan setelah pernah menjadi peserta, panitia, dan senior.

Salam OSPEK

4 Responses to “OSPEK..Berguna atau Budaya?”

  1. Hary4n4 said

    Kadang kasihan juga kalo pas lihat..para peserta OSPEK dikerjai habis2an ama panitia ato senior-nya… Tapi benar kok..yg penting jangan terlalu berlebihan.. Apalagi kalo sampe timbul korban…
    Oh yaa…makasih atas kunjungan baliknya… Salam hangat.. Salam damai selalu…

  2. dinoyudha said

    di kampusku dah ga ada yang kayak gitu lagi…

  3. Manusia laba2 said

    Sumpah ane benci bnget yg namanya ospek.
    Dlu ane smpe ganti kampus gara2 senior ngospek sampe 2 bln. Gila ngga’ tuh.
    Temen ane dah keluar 4 orang.

    Guwe mpe nangis bingung mo gmn. Tiap hri ngumpet2 kl mo pulang.
    Mo brantem takut ditangkep polisi.

    Sumpah aku sedih bngt wktu ntu.

    Smg senior yg jahat kualt krn sudah membuat sedih n susah para ortu mhs.

    *hapus ospek skrg juga!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: