Beweis von Liebe Unsere

Salam RImba Raya Lestari

Potensi Pertanian Indonesia

Posted by dedenia72 on August 10, 2009

Menyikapi komentar dari pak Endang Rukmana tentang bagaimana masa depan pertanian Indonesia.

images

Sebenarnya siapapun akan setuju menjawab pertanian Indonesia penuh dengan potensi. Indonesia daerah tropis yang relatif subur karena dilewati oleh sabuk api (rangkaian Gunung Berapi) yang menyebabkan tanah Indonesia kebanyakan dibentuk dari dataran volkan. Pulau Jawa misalnya. Namun pemikiran dalam masyarakat yang sudah mengakar otak bahwa menjadi petani itu penuh dengan kesengsaraan, membuat sebagian besar penduduk memilih mencari pekerjaan lain asalkan bukan petani. Ini tentu menjadi masalah. Hitung saja lulusan IPB atau Universitas manapun jurusan pertanian yang bekerja menjadi petani, atau setidaknya berhubungan dengan pertanian. Hampir bisa dihitung dengan jari (jari orang se-Indonesia dikumpulkan..hehehehe).

Namun pada kenyataanya pertanian Indonesia bukannya maju tapi malah dilewati oleh negar-negara lain yang baru saja bergelut di bidang ini.

Yang menyebabkan pertanian kita menjadi tidak maju adalah (menurut pendapat penulis..) antara lain disebabkan karena:

  1. Tidak adanya jaminan keamanan dari pemerintah.

Keamanan yang penulis maksud adalah keamanan yang menjamin kehidupan petani (susah dimengerti ya…). Maksudnya seperti ini. Kita tentu sering mendengar keluhan petani tentang harga pupuk mahal, bibit dan benih susah dicari, susah mencari pasar akibatnya pas panen harga murah meriah karena dijualnya ke tengkulak. Nah, keamanan seperti itulah yang menurut penulis harus dijamin oleh pemerintah. Mari kita tengok Thailand dan Vietnam yang sejarah pertaniannya lebih muda dari kita atau Jepang yang tanahnya bahkan bisa diukur dengan meteran (saking kecilnya Jepang dibanding kita). Pertanian mereka maju karena pemerintahan menjamin  semua itu. Pemerintah menyediakan pasar bagi petani mereka dan membeli produk pertanian yang mereka hasilkan lebih tinggi dibandingkan dengan harga produk pertanian impor. Bahkan ada reward bagi petani mereka yang berprestasi. Hal semacam ini tidak boleh dianggap sepele karena hasil yang ada telah membuktikan bahwa petani menjadi lebih semangat bekerja dengan adanya keterjaminan tersebut. Pak Andi Rianto, teman sekaligus orang yang saya hormati pernah bilang “gue bikin hepi anak buah gue, kalo anak buah gue hepi, mereka kerja hepi, ayam-ayam gue hepi, gue juga hepi pas liat hasilnya”. Mungkin seharusnya pak Andi jadi Presiden. Hehehehe.

          2. Kurangnya penyuluhan atau distribusi ilmu terhadap petani

Setiap mahasiswa IPB harus meneliti tentang pertanian sebagai syarat kelulusan mereka. Tapi tidak banyak hasil penelitian tersebut yang sampai ke petani. So, apa gunanya mahasiswa IPB meneliti
berbulan-bulan dan menemukan formulasi pupuk terbaik (contoh saja..) tapi tidak disampaikan terhadap petani? Nothing kan. Tidak hanya itu, kebanyakan penyuluh pertanian (tidak semua lho..) hanya mengunjungi petani sebulan sekali, bahkan ada yang lebih lama, dan mereka jarang ikut langsung melihat atau turun ke sawah (ini nyata berdasarkan wawancara yang pernah saya lakukan terhadap petani). Hal ini tentu tidak membuat petani kita semakin maju. Mereka hanya menjejali petani dengan teknik-teknik yang mereka dapat sebagai materi penyuluhan, padahal kenyataan di lapangan dapat berbeda 180 derajat. Berbeda dengan di Jepang (maaf penulis selalu membandingkan). Di Jepang setiap petani mempunyai jadwal apa yang harus ditanam berdasarkan musim dan tutorial tentang cara menanam dan merawat tanaman tersebut sehingga hasilnya baik.

           3.  Rendahnya kualitas dan kuantitas SDM petani

Memang jika dihitung secara angka, jumlah petani di Indonesia sangat banyak. Tapi apakah ada yang pernah memperhatikan usia mereka? Rata-rata petani Indonesia sudah uzur (tua red.). lalu bagaimana atau apa yang terjadi jika satu saat nanti mereka, maaf, meninggal. Sedangkan pemuda-pemuda nya enggan bekerja menjadi petani. Saya sebut rendah kualitas petani kita karena mereka bertani berdasarkan ilmu turun temurun dari moyangnya sebelumnya. Hampir tidak ada petani lulusan S1 (kecuali pak Andi, beliau lulusan S2). Dan mereka sangat kesulitan (dan ketakutan) ketika dihadapkan pada teknik baru. Sebagian menganggap bahwa dengan teknik yang mereka gunakan sebelumnya merekapun bisa panen lumayan. Bagaimana jika dengan teknik baru mereka malah jadi gagal panen. Petani Indonesia juga cenderung latah. Jika harga kacang lagi naik mereka beramai-ramai menanam kacang. Lalu saat panen raya harga kembali anjlok karena oversupply.

       4. Persaingan dengan sumber energi dan konversi lahan ke non pertanian

Kita semua tahu bahwa sumber energi di dunia berkurang. Kemudian dunia mulai mengissuekan untuk mencari sumber energi alternatif. Kita pun juga terpengaruh. Gerakan menanam tanaman yang bisa menghasilkan etanol (bioetanol) digalakkan. Jarak, Singkong, Sawit, Jagung, dst. Tapi ini malah jadi bumerang bagi kita. Bagaimana kita bisa memenuhi kebutuhan energi jika kita saja masih kelaparan. Hal itu hanya bisa terjadi jika kita sudah bisa berswasembada pangan. Bagian yang ini murni kesalahan “orang pintar”. Kemudian berkurangnya luas lahan karena konversi ke non pertanian. Sudah ribuan bahkan jutaan hektare  luasan lahan subur yang dirubah menjadi industri, perumahan, atau perkebunan.

Kesimpulannya pertanian Indonesia mempunyai  potensi untuk maju. Asalkan semua faktor pendukung benar-benar tersedia. Nah, itulah pandangan penulis tentang potensi pertanian Indonesia di masa depan.

Pertanian adalah sektor yang sangat vital. Maka kita juga mempunyai tanggung jawab yang sama untuk memajukan pertanian kita. Malu atuh kalah ama negara tetangga.  Pertanian!Jaya!!!

12 Responses to “Potensi Pertanian Indonesia”

  1. Salah satu hal yang menarik dari pembelajaran sistem pertanian dan revitalisi pertanina terhadap pertumbuhan ekonomi adalah negara jiran ketika dipimpin Mahathir Muhammad.
    Mahathir Mohammad adalah seorang dokter yang santun, cerdas, punya nyali, kapasitas dan visi besar untuk bangsanya. At least pada masa awal pemerintahannya.
    Krisis moneter ditangkis dengan mem-peg ringgit ke USD, uang masuk dibebaskan berapa saja, uang keluar Malaysia sangat dibatasi, sehingga bahkan George Soros pun tak mampu menggoyang moneter Malaysia. Indonesia malah melakukan sebaliknya, mempersulit uang masuk dengan keharusan disclosure bertele tele, untuk alasan mencegah money laundering, dan membuka luas keran uang keluar dengan alasan repatriasi modal. Mahathir say no to bantuan asing (tawaran hutang), bukan karena arogan, tetapi sudah firm pada konsep yang diyakininya. Konsep itu bernama Felda dan Felgra. Felgra membuka jutaan hektar kebun sawit dengan standard internasional supaya harga ekspornya tinggi, diikuti secara simultan Felda membangun kota kota kecil (tapi keren abiez infra strukturnya) ditumbuhkan disela kebun rasaksa sawit dengan jalan hot mix penghubung antar kota.
    Lalu dibagikannya kebun dan pemukiman itu kepada bumi putera, to those it may concern asal bumiputera. Jadilah Malaysia yang kita lihat sekarang. Mahathir tidak memusuhi China (golongan ekonomi kuat), tetapi membatasi pergerakannya hanya dikawasan kota. Sila lakukan apa saja, termasuk melestarikan budaya judi nya, tapi di territory yang ditetapkan. Sementara bumiputera diberi perlakuan khusus, simply because they badly need help. Ini barangkali yang namanya potong generasi. Inilah pmihakan yang jelas.
    Mahathir paham dosa masa lalu, sistem sebelumnya telah membuat banyak orang yang tak mampu mengenyam pendidikan, mendapat pengalaman dan wawasan yang cukup untuk bersaing dengan kelompok warga yang lebih diuntungkan, sehingga kalau proses persaingan diterapkan kepada mereka, sampai kapanpun mereka (para bumi putera=Melayu) akan tetap tertinggal dilandasan. Diperlukan konsep charity yang cerdas, untuk setidaknya pada generasi berikutnya mereka akan mampu head to head dengan warga lain manapun, bahkan warga dunia manapun. Yang disebut sekolah gratis, ya gratis beneran karena mereka tinggal di boarding house dan seluruh kebutuhan hidupnya selama sekolah ditanggung oleh Pemerintah. Yang disebut kesehatan bagi bumi putera artinya hanya membayar RM1.- (satu ringgit) untuk sakit apapun, opname atau terapi berapa lamapun dengan biaya sepenuhnya ditanggung pemerintah. Sekarang si santun Malaysia sudah sangat berubah bentuknya. Bahwa Mahathir juga terpeleset dimasa akhir jabatannya, sama sekali tidak mengecilkan peran besarnya, seperti banyak pemimpin dunia lainnya.

  2. 4sudut said

    Pertama……
    blognya dah aku link balik

  3. mel said

    kalau buka dari petani,,dr mana bisa dpt nasi yah,,,

  4. Bagus sekali artikelnya…

    Ok. dengan alasan2 kenapa pertanian di Indonesia tertinggal. Sebenarnya banyak faktor penghambat laju perkembangan pertanian di indonesia selain yang telah disebutkan tersebut. Yang paling utama adalah kebijakan pemerintah, ingat pada dekade orde baru? Pada waktu itu ada pergeseran yang tragis dari konsep “Agraria” ke “Industri”. Ingat, waktu itu diawali dengan industri pesawat “PT. Nurtanio” .. bagaimana sekarang ?

    Mayoritas mahasiswa IPB adalah dari pedesaan, dimaklum… karena budaya masyarakat desa sudah melekat.. kalau sekolah tinggi harus jadi priyai, pegawai, atau “menak” kalo di sunda. Kenyataannya memang demkian. Bahkan alumni IPB sudah terkenal… bekerja di bidang apa saja diterima.., sehingga ilmu yang didapat selama kuliah tidak dimanfaatkan untuk pengembangan sektor pertanian. Itulah kenyataannya…
    Contoh jangan jauh2.. anak saya yang perempuan, lulusan S1 peternakan IPB.. eh malah kerja di perbankan. Ketika saya tanya .. “apakah kamu tidak mau buka usaha sendiri misalnya ternak ayam ?” Jawabannya apa coba … “OGAH.. KOTOR!!”. Begitulah jawabannya .. Susah anak sekarang maunya kerja bersih…!

    Salam sukses..!

    • dedenia72 said

      hahahaha..
      wah pujian bapak membuat saya malu…
      memang seperti keadaan lulusan IPB..
      maunya kerja bersih with minimum risk..
      tidak percuma juga saya kira dosen-dosen mengajari hukum ekonomi…hehehehehe
      salam buat anak bapak..

  5. endangkusman said

    maaf de… saya bukan prmosi.., lupa masuk dari blog yang satu lagi.., lupa ganti alamat.

  6. henry said

    Sejarah pertanian di Indonesia secara intensif telah dimulai kurang lebih semenjak tahun 1969 pada saat dimulainya program intesifikasi massal (INMAS) untuk petani sebagai dampak revolusi hijau di tingkat dunia. Pada saat tahun 1969 para petani mulai diperkenalkan dengan berbagai jenis pupuk buatan yang bersifat kimia disertai dengan obat-obatan pembasmi hama penyakit dan gulma (Pestisida dan Herbisida).
    Dari sektor pemumpukan dari penggunaan pupuk kimia atau yang lebih dikenal dengan anorganik disertai dengan paket-paket lainnya yang dikenal dengan nama Panca Usaha Tani mengakibatkan peningkatan produktivitas tanaman yang cukup tinggi dibandingkan kondisi sebelumnya sehingga Indonesia dapat mencapaim swasembada pangan pada tahun 1986 dan mendapat penghargaan dari organisasi pangan dunia di PBB yaitu FAO.
    Namun peralihan dalam budaya bertani dari penggunaan pupuk organik (pupuk kandang, kompos, dll) ke penggunaan pupuk kimia dalam jangka waktu yang relatif panjang hingga saat ini telah menimbulkan dampak samping yaitu mengakibatkan tanah-tanah pertanian di Inonesia menjadi semakin keras sehingga menurunkan produktivitasnnya. Hal ini bukan dikarenakan hilangnya tanah lapisan atas (Top Soil) melainkan disebabkan oleh penumpukan sisa atau residu pupuk kumia dalam tanah yang mengakibatkan tanah menjadi sulit terurai. Hal ini disebabkan salah satu sifat bahan kimia adalah relatif sulit terurai atau hancur dibandingkan dengan bahan organik. Jika tanah semakin keras, maka akan mengakibatkan tanaman akan semakin sulit menyerap pupuk/unsur hara tanah dan untuk menghasilkan panen yang sama dengan hasil panen yang sebelumnya diperlukan dosis pupuk lebih tinggi. Hal inilah yang menyebabkan mengapa dosis pupuk semakin lama semakin tinggi. Selain itu dengan semakin kerasnya tanah, maka proses penyebaran akar dan aerasi (pernafasan) akar akan terganggu yang berakibat pertumbuhan dan kemampuan produksi tanaman akan semakin berkurang. Selain masalah pengerasan tanah akibat penggunaan pupuk kimia masalah yang patut di perhatikan di Indonesia adalah adanya indikasi proses pemiskinan atau pengurangan kandungan 10 jenis unsur hara meliputi sebagian unsur hara makro yaitu Ca, S dan Mg (3 unsur) serta unsur hara mikro yaitu Fe, Na, Zn, Cu, Mn, B dan CL (7 jenis unsur hara). Seperti yang diketahzui sazazt ini (Jornal ilmiazh soil science, 1998) dari sekian banyak unsur yang ada di alam, semua jenis tanaman membutuhkan mutlak (harus tersedia/tidak boleh tidak 13 macam unsur hara untuk keperluan proses pertumbuhan dan perkembangannya sering dikenal dengan nama unsur hara essensial. Unsur hara ini diperlukan dalam jumlah yang berbeda satu sama lain yang secara garis besar dibedakan menjadi unsur hara makro (6 jenis) yang dibutuhkan dalam jumlah lebih besar (unsur N,P,K,Ca,S dan Mg) dan unsur hara mikro (7jenis) yang dibutuhkan lebih sedikit (Unsur Fe,Na,Zn,Mn,B,Cu dan Cl). Walaupun berbeda dalam jumlah kebutuhannya namun dalam fungsi pada tanaman masing-masing unsur sama pentingnya dan tidak bisa mengalahkan atau menggantikan satu sama lainnya. Dalam hal ini masing-masing unsur hara mempunyai fungsi dan peran khusus tersendiri terhadap proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sehingga jika terjadi kekurangan satu jenis unsur hara saja akan mengakibatkan tidak optimalnya pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Jadi ke 13 unsur hara tresebut jika pada manusia ibarat menu makan 4 sehat 5 sempurna yang masing-masing mempunyai peran sendiri-sendiri. Pupuk Organik cair lengkap Super Power mengandung 13 macam unsur hara esensial yang sangat dibutuhkan oleh tanaman dan hingga 77 macam unsur lainnya yang tidak terdapat pada pupuk kimia, mengingat pupuk organik Super Power mdiformulasikan dari bahan-bahan dasar alami 100% organik terbaik sehingga aman bagi tanaman, ternak maupun manusia.
    Komposisi unsur-unsurnya diramu begitu cermat dan tepat sehingga benar-benar sesuai dengan kebutuhan segala jenis tanaman didukung dengan petunjuk pemakaian yang ringkas dan aplikatif.
    Bau khas dari pupuk organik lengkap Super Power yang tiada duanya, kepekatan istimewa sebagai penanda kandungan yang kaya serta daya larut seketika menunjukkan kematangan dan kesempurnaan sebuah formula pupuk cair hasil karya tangan-tangan ahli putra bangsa yang sulit ditemukan bandingannya.

    9 Keunggulan Pupuk Organik Cair Lengkap “Super Power”

    1. Mampu memperbaiki kesuburan fisik tanah serta mampu memacu aktifitas mikroorganisme tanah melalui kandungan mikroba probiotik.
    2. Mampu menghancurkan residu pupuk kimia yang tersisa di dalam tanah karena mengandung asam humat dan asam vulvat dari golongan fulvena.
    3. Mempercepat pertumbuhan generatif tanaman serta mengurangi kerontokan bunga dan buah berkat kandungan hormon auxin, gibreriline dan citocynine.
    4. Mengandung polifenol konsentrasi tinggi sehingga mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit.
    5. Mampu terserap dalam waktu cepat oleh tanaman karena unsur haranya sudah dalam bentuk ion.
    6. Merangsang pertumbuhan akar, memperkuat akar dan bantan serta mempercepat perkecambahan biji.
    7. Menyediakan semua kebutuhan unsur hara makro dan mikro lengkap bagi tanaman.
    8. Mengurangi jumlah penggunaan pupuk NPK kimia (Urea, SP-36, dan KCL) sebesar 25% s/d 50%.
    9. Meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi tanaman antara 15% s/d 100%, kualitas rasa, warna, aroma dan daya penyimpanan sekaligus memperpanjang masa produktif tanaman yang tidak habis satu kali panen.

    Kandungan Unsur Hara
    N ± 5% Zn ± 10,5 ppm
    P2O5 ± 1.4% Cu ± 14,8 ppm
    K2O ± 2.15% Mn ± 22,5 ppm
    Ca ± 0.75% B ± 10,1 ppm Mg ± 0.65% Cl ± 1,2 ppm
    Fe ± 187.6 ppm S ± 8,8 ppm
    Na ± 45.7 ppm

    Petunjuk Penggunaan
    Pupuk Organik Cair Lengkap Super Power

    Jenis Tanaman
    Tanaman pangan
    (padi, jagung, kedelai,dsb) interval waktu 7– 10 hari sekali dengan dosis 4 tutup/tangki semprot

    Sayur-sayuran daun
    (sawi, kubis, selada, seledri, bayam, kangkung, kemangi, kailan, bawang pre, asparagus, dsb) interval waktu 5 – 7 hari sekali dengan dosis 4 tutup/tangki semprot

    Sayur-sayuran dan buah
    (semangka, melon, cabe, tomat, kacang panjang, bawang, brokoli, ketimun, pare, dsb)interval waktu 7 – 10 hari sekali dengan dosis 4 tutup/tangki semprot

    Tanaman perkebunan
    (mangga, jeruk, apel, durian, anggur, kopi, kakao, sawit, kapas, lada, pepaya, dsb) waktu aplikasi 1. Sebelum berbunga, 2. Saat buah muda, 3. Setelah pangkas
    interval waktu Tiap 2 – 3 bulan dengan dosis 5 tutup/tangki semprot

    Tebu 1 bulan
    2 bulan
    3 bulan 4 tutup/tangki semprot

    Tembakau interval waktu 7 – 10 hari sekali dengan dosis 3 tutup/tangki semprot

    Pembenihan/pembibitan 1 – 2 jam1 tutup/liter air rendam

    *Boleh disiramkan pada tanaman yang diperlukan atau tanaman yang tidak memungkinkan untuk disemprot

  7. Andri said

    Wah,,, salam kenal…
    Akhir2 ini saya tertarik untuk bisa menjadi bagian org2 yg nantinya bisa memajukan pertanian…
    Boleh tau ga,,
    forum2 apa aja yg terkait pertanian ini???

    Kalo bisa dijawab ke email ya… hehe
    ini emailnya: bas5ist_aan@yahoo.com

  8. terimakasih infonya..

  9. terima kasih infonya kk. saya Muhaimin mahasiswa IPB, Saya rasa sekarang IPB sudah sangat berbeda dengan dulu, kami lebih dididik untuk memajukan pertanian, kalaupun ada yang melenceng, itu karena passion org tsb tidak pada pertanian sejak dari awal. untuk lebih jelasnya telah saya kupas di blog saya pribadi http://justmuhay.blogspot.com/ sekian terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: